Kuliah Tamu Reporting
Science and Technology
Pembicara : Profesor
Thomas Djamaluddin dan Vanny Narita, PhD
PEMBICARA 1
Profesor
Thomas Djamaluddin selaku spesialisasi studi navigasi, astronomi, astrofisika
saat ini bekerja di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). LAPAN
sendiri memiliki visi yaitu menjadi pusat unggulan penerbangan dan antariksa
untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri. Lapa juga memiliki 4
kompetensi utama yaitu,
1. Antariksa
dan Sains Atmosfer
2. Teknologi
Penerbangan dan Antariksa
3. Pengideran
Jauh
4. Kajian
Kebijakan Penerbangan dan Antariksa
Lapan juga
memiliki beberapa program utama yang dikerjakan :
1.
Pengembangan Teknologi Satelit
Satelit pada jaman dahulu bisa dikatakan berumur
pendek contohnya seperti satelit palapa yang berumur kurang lebih hanya 5
tahun. Untuk membuat satelit yang jauh lebih berkualitas dan panjang umur,
lapan mengirimkan belasan enjenir ke Jerman untuk belajar membuat satelit.
Satelit yang pertama kali dibuat yaitu LAPAN A1. Kemudian selanjutnya dibuat
satelit LAPAN A2 dan LAPAN A3 yang digunakan untuk pemantauan kapal laut,
perkebunan, dan pertanian.
2.
Pengembangan Teknologi Pesawat Transport dan
Pemantau Maritim tanpa awak
LAPAN juga mengembangkan pesawat untuk transportasi.
Seperti pesawat yang pertama kali dibuat yaitu N-219 (N berarti Nusantara, 2
berarti 2 mesin, 19 berarti 19 awak/ penumpang). Proyek ini rencana akan
mencangkup beberapa aspek yaitu, penyelamatan kemampuan bangsa dalam rancang
bangun pesawat, ekonomi, transportasi, dan memperkuat jaringan SDM teknologi
penerbangan.
3.
Pengembangan Teknologi Roket Sonda menuju Roket
Peluncur Satelit
Roket Sonda saat ini sedang terus dikembangankan yang
direncakan mampu untuk meluncurkan sendiri satelit buatan Indonesia. Selama ini satelit buatan
Indonesia harus diluncurkan menggunakan roket dari negara lain. Pengupayaan
roket ini juga akan dipergunakan untuk memperkuat pertahanan nasional.
4.
Pengembangan Bank Data Pengideran Jauh Nasional
LAPAN juga mengembangkan data dari satelit pengideraan
jauh yang saat ini sudah menghasilkan gambar-gambar yang memiliki resolusi
lebih baik.
5.
Pengembangan Sistem Pemantau Bumi Nasional
Sistem pemantau ini yang nantinya akan memberikan info
ke kementrian dengan guna untuk meminimalisir dampak akibat bencana tertentu
seperti, kebakaran hutan. Sistem ini juga dapat digunakan untuk memantau fase
pertumbuhan padi, zona potensi penangkapan ikan dengan menggunakan teknologi
dengan memanfaatkan deteksi gelombang laut yang diharapkan mampu membantu
nelayan karena tidak perlu lagi mencari ikan karna sudah tahu persis letak
potensi menangkap ikan. sistem ini juga dipergunakan untuk memantau pulau-pulau
kecil yang berada di bagian terluar Indonesia.
6.
Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Dinamika
Atmosfer Ekuator
Sistem yang sedang dikembangkan oleh LAPAN yaitu
SADEWA. Sadewa sendiri merupakan sistem peringatan bencana dengan cara
memonitor kejadian hujan dan mengirimkan informasi peringatan dini melalui
website, e-mail, dan pesan singkat (SMS) kepada pihak-pihak terkait dengan
penanggulangan bencana.
7.
Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Cuaca
Antariksa dan Observatorium Nasional
SANTANU berguna untuk mengetahui curah hujan ekstrim
yang mungkin sering terjadi di Indonesia. Selain itu juga bisa unutk mendeteksi
adanya badai matahari. Pemantauan benda jatuh antariksa bekerja sama dengan
BAPETEN dalam pengukuran dampak radiasi dari benda antariksa.
PEMBICARA 2
Ibu
Vanny Narita, PhD juga membagikan ceritanya seputar pengalamannya dari awal
berkuliah sampai sekarang ia menjadi peneliti yang independen. Ibu Vanny
mengatakan bahwa pada dasarnya sekarang antibiotik sudah tidak berfungsi sama
seperti dulu. Antibiotik yang sekarang tidak lagi bisa mengatasi bakteri karena
bakteri yang sekarang sudah berevolusi dan sudah kebal terhadap antibiotik yang
sudah ada sekarang. Perlu adanya pembaharuan teknologi yang dapat mengatasi
bakteri yang sudah mulai berevolusi. Antibiotik yang sekarang ada itu
sebenarnya masih dapat membunuh bakteri, tetapi terdapat bakteri-bakteri yang
sudah ressistant yang tidak lagi
dapat dibunuh dengan antibiotik sekarang.
SESI TANYA JAWAB
1.
Q : Kenapa sistem yang dibuat oleh LAPAN tidak
diberikan langsung kepada masyarakat ?
A : Distribusi data kepada masyarakat awalnya
diberikan ke kementrian daerah secara gratis tergantung dari masing-masing
daerah siapnya kapan. Lebih mudah mendistribusikan data melalui pejabat
setempat dari pada harus memberikannya kepada masyarakat langsung.
2.
Q : Kenapa Indonesia tidak menerbangkan satelit
dengan roket sendiri ?
A : Roket yang dikembangkan di Indonesia belum mampu
untuk menerbangkan satelit. Negara – negara di ASEAN pun belum ada yang bisa
mengembangkan roket sendiri.
3. Q : Ketika sakit apakah dokter memberikan
antibiotik secara benar, dalam arti tidak menguntungkan perusahaan antibiotik
itu sendiri, kemudian harus percaya dokter atau penelitian ilmiah?
A : Panduan tentang antibiotik sudah ada yaitu dari
WHO. Kalau ditanya percaya mana, harus melihat keduanya. Kemudian, kritis juga
untuk menanyakan apakah penyakit yang diderita dan apakah obat yang diberikan
sudah tepat.
4.
Q : Bagaimana caranya membunuh bakteri jika
bakterinya resistant terhadap
antibiotiknya ?
A : Tidak semua bakteri resistant terhadap antibiotik. Tetapi yang resistant akan tumbuh lebih kuat dan biasanya bakteri tersebut “mengajarkan”
kepada bakteri lainnya untuk resistant.
5.
Q : Apakah alien itu ada ?
A : Tentu sangat mungkin diluar sana terdapat kehidupan
yang menyerupai manusia. Tetapi untuk tiba di Bumi sendiri mereka perlu
melewati waktu yang panjang. Syarat adanya kehidupkan yaitu suhu yang pas dan
harus ada air.