Senin, 26 Februari 2018

summary - "APA ITU SAINS?"


                  Mengetahui tentu sangat berbeda dengan kepercayaan. Mengetahui sendiri dapat diartikan sebagai memuaskan rasa ingin tahu dengan cara mengobservasi atau mengumpulkan data. Sedangkan, kepercayaan merupakan cara untuk menjelaskan alam semesta dan mengemasnya dnegan kemampuan, kualitas, perasaan, dan emosi. Pengetahuan sehari-hari merupakan pengetahuan umum, masuk akal, primer, atau langsung. Sains termasuk kedalam pengetahuan sistematis yang bertujuan untuk menciptakan, membayangkan, dan menemukan apa yang yang diketahui. Sains juga dibagi menjadi dua yaitu sains keras yang meliputi sains alam dan sains halus yang meliputi sosiologi, psikologi, ilmu politik, sejarah, geografi, teologi, ekonomi, bahkan kedokteran.

              Sains sendiri tidak sepenuhnya sempurna. Karena mendekati kebenaran dan dapat digunakan untuk mengubah realita maka sains memiliki kesulitan melebihi bentuk-bentuk pengetahuan lain. Sains modern bukan lah sesuatu yang mistis atau ajaib yang mungkin dapat menyelesaikan masalah tertentu. sains juga bukanlah sebuah agama dan ilmuan juga bukan seorang pemuka agama.kekurangan lain yang sering terjadi yaitu kesalahan bahkan pemalsuan hasil.

                Dalam metode jurnalistik ketika mengumpulkan informasi dan menyusun berita, seorang wartawan menempatkan kebenaran diatas segalanya. Ini adalah kesamaan lain antara ilmuan dengan wartawan. Wartawan sendiri tidak melaporkan fakta yang tidak terbukti kebenarannya. Seorang pewarta yang baik juga menyediakan konteks dan menjelaskan implikasinya terhadap politik, pendidikan, hukum, keadilan, etika, dan kehidupan masyarakat. wartawan pun memiliki kriteria dan diharuskan memiliki semuanya yaitu, jujur, layak diberitakan, bermakna, dan menarik. Seorang wartawan harus mencangkup aera yang seluas mungkin untuk mendapatkan beritanya dalam konteks yang terluas. Seperti kritikus seni atau sastra, wartawan ilmiah adalah kritikus sains. Seorang kritikus harus senantiasa mengajukan pertanyaan, memeriksa, memilih, mendeskripsikan, menverifikasi, dan menhelaskan fakta ilmiah untuk mencari apa yang hilang dan untuk berkomentar terhadap hal-hal yang ditemukan.

                Para filsuf telah berupaya menggugat sifat sejati sains. Pada akhir abad ke 20, pandangan yang saling bertentangan terhadap sains menghantarkan kita kepada fenomena yang disebut “perang ilmu”. Berikut merupakan beberapa kata pemikiran filsuf kontemporer.
1.       Thomas Kuhn (1922-1996)
Kuhn menyatakan bahwa pencarian obyektif bukanlah tujuan sains yang sebenarnya, namun sains pada dasarnya adalah suatu metode untuk mengatasi masalah yang beroprasi dengan suatu sistem keyakinan kontemporer. Sistem kebanyakan ilmuan seperti Isaac Newston, Albert Einstein, Charles Darwin adalah membentuk ulang alam semesta. Kuhn berargumen bahwa paradigma-paradigma baru mengambil alih bukan karena manfaat ilmiah mereka melainkan karena penentang-penentang mereka mati: relativitas umum paham Einsteinian diterima sebagai suatu deskripsi alam menyusul surutnya wibawa paham Newtonian.

2.       Karl popper (1902-1994)
Menurut Popper, sains adalah sebuah upaya terus menerus dalam pembuktian atau gugatan terhdap kesalahan. Setiao percobaan dan observasi bertujuan untuk membuat kontradiksi terhdap teori yang sudah diterima.

                Konstruktivistis sosiologi meyakini bahwa ilmu adalah sebuat produk asli masyarakat. mereka menyumpulkan bahwa masyarakat menentukan dalam sekala besar keyakinan-keyakinan para ilmuan: seorang ilmuan dapat merujuk publikasi dan hasil kajiannya terdapat suatu teori ilmiah tertentu. validitas atau kesahihan definisi ini terletak pada fakta bahwa publikasi adalah vital bagi setiap ilmuan. Mereka yang telah membuat jurnal ilmiah harus di publikasikan atau lenyap dari peredaran. Semua artikel yang dimuat di jurnal sains yang serius telah di telaah oleh pakar seilmu yang meliputi indeks kutipan dan faktor dampak sebelum dipublikasikan. Tetapi, kebenaran artikel yang telah ditelaah pakar seilmu hanya bersifat sementara. John Rennie, mantan pemimpin redaksi scientific American memiliki empat catatan untuk jurnal-jurnal yang ditelaah pakar seilmu, dengam menyatakan bahwa mereka rawan terhadap:
1.       Peluang untuk suatu kesalahan
2.       Kecurangan
3.       Bias dan ketidak jujuran
4.       Tekanan politis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar