Mengetahui tentu sangat berbeda
dengan kepercayaan. Mengetahui sendiri dapat diartikan sebagai memuaskan rasa
ingin tahu dengan cara mengobservasi atau mengumpulkan data. Sedangkan,
kepercayaan merupakan cara untuk menjelaskan alam semesta dan mengemasnya
dnegan kemampuan, kualitas, perasaan, dan emosi. Pengetahuan sehari-hari
merupakan pengetahuan umum, masuk akal, primer, atau langsung. Sains termasuk
kedalam pengetahuan sistematis yang bertujuan untuk menciptakan, membayangkan,
dan menemukan apa yang yang diketahui. Sains juga dibagi menjadi dua yaitu
sains keras yang meliputi sains alam dan sains halus yang meliputi sosiologi,
psikologi, ilmu politik, sejarah, geografi, teologi, ekonomi, bahkan
kedokteran.
Sains
sendiri tidak sepenuhnya sempurna. Karena mendekati kebenaran dan dapat
digunakan untuk mengubah realita maka sains memiliki kesulitan melebihi
bentuk-bentuk pengetahuan lain. Sains modern bukan lah sesuatu yang mistis atau
ajaib yang mungkin dapat menyelesaikan masalah tertentu. sains juga bukanlah
sebuah agama dan ilmuan juga bukan seorang pemuka agama.kekurangan lain yang
sering terjadi yaitu kesalahan bahkan pemalsuan hasil.
Dalam
metode jurnalistik ketika mengumpulkan informasi dan menyusun berita, seorang
wartawan menempatkan kebenaran diatas segalanya. Ini adalah kesamaan lain
antara ilmuan dengan wartawan. Wartawan sendiri tidak melaporkan fakta yang
tidak terbukti kebenarannya. Seorang pewarta yang baik juga menyediakan konteks
dan menjelaskan implikasinya terhadap politik, pendidikan, hukum, keadilan,
etika, dan kehidupan masyarakat. wartawan pun memiliki kriteria dan diharuskan
memiliki semuanya yaitu, jujur, layak diberitakan, bermakna, dan menarik.
Seorang wartawan harus mencangkup aera yang seluas mungkin untuk mendapatkan
beritanya dalam konteks yang terluas. Seperti kritikus seni atau sastra,
wartawan ilmiah adalah kritikus sains. Seorang kritikus harus senantiasa
mengajukan pertanyaan, memeriksa, memilih, mendeskripsikan, menverifikasi, dan
menhelaskan fakta ilmiah untuk mencari apa yang hilang dan untuk berkomentar
terhadap hal-hal yang ditemukan.
Para
filsuf telah berupaya menggugat sifat sejati sains. Pada akhir abad ke 20,
pandangan yang saling bertentangan terhadap sains menghantarkan kita kepada
fenomena yang disebut “perang ilmu”. Berikut merupakan beberapa kata pemikiran
filsuf kontemporer.
1. Thomas
Kuhn (1922-1996)
Kuhn menyatakan
bahwa pencarian obyektif bukanlah tujuan sains yang sebenarnya, namun sains
pada dasarnya adalah suatu metode untuk mengatasi masalah yang beroprasi dengan
suatu sistem keyakinan kontemporer. Sistem kebanyakan ilmuan seperti Isaac
Newston, Albert Einstein, Charles Darwin adalah membentuk ulang alam semesta. Kuhn
berargumen bahwa paradigma-paradigma baru mengambil alih bukan karena manfaat
ilmiah mereka melainkan karena penentang-penentang mereka mati: relativitas
umum paham Einsteinian diterima sebagai suatu deskripsi alam menyusul surutnya
wibawa paham Newtonian.
2. Karl
popper (1902-1994)
Menurut Popper,
sains adalah sebuah upaya terus menerus dalam pembuktian atau gugatan terhdap
kesalahan. Setiao percobaan dan observasi bertujuan untuk membuat kontradiksi
terhdap teori yang sudah diterima.
Konstruktivistis
sosiologi meyakini bahwa ilmu adalah sebuat produk asli masyarakat. mereka
menyumpulkan bahwa masyarakat menentukan dalam sekala besar keyakinan-keyakinan
para ilmuan: seorang ilmuan dapat merujuk publikasi dan hasil kajiannya
terdapat suatu teori ilmiah tertentu. validitas atau kesahihan definisi ini
terletak pada fakta bahwa publikasi adalah vital bagi setiap ilmuan. Mereka yang
telah membuat jurnal ilmiah harus di publikasikan atau lenyap dari peredaran. Semua
artikel yang dimuat di jurnal sains yang serius telah di telaah oleh pakar
seilmu yang meliputi indeks kutipan dan faktor dampak sebelum dipublikasikan. Tetapi,
kebenaran artikel yang telah ditelaah pakar seilmu hanya bersifat sementara.
John Rennie, mantan pemimpin redaksi scientific
American memiliki empat catatan untuk jurnal-jurnal yang ditelaah pakar
seilmu, dengam menyatakan bahwa mereka rawan terhadap:
1. Peluang
untuk suatu kesalahan
2. Kecurangan
3. Bias
dan ketidak jujuran
4. Tekanan
politis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar