Jumat, 09 Maret 2018

Gampang-Gampang Susah menjadi Wartawan Sains


Summary – How to Write a Science News Story Based on a Research Paper, Bab 2 Reporting Science Journal
Review -Mirrors have revealed something new about manta rays – and it reflects badly on us

          Menjadi wartawan sains mungkin gampang-gampang susah. Reporter lain mungkin memiliki sumber beritanya masing-masing, sedangkan reporter sains memiliki jurnal atau makalah sebagai sumbernya. Setiap harinya ada begitu banyak jurnal yang dipublish, maka dari itu wartawan sains tidak akan pernah kehabisan sumber berita. Dari sekian banyak jurnal yang ada, wartawan harus mampu memilah-milah mana jurnal yang akan digunakan dan mana yang tidak bisa digunakan.
            Ketika ingin memberitakan jurnal sains, seorang wartawan harus membaca jurnal tersebut, paling tidak abstrak yang ada pada jurnal tersebut. Jangan lupa menverifikasi setiap fakta yang ada dalam jurnal kepada pemilik jurnal tersebut lewat wawancara misalnya. Jangan menjadi wartawan yang mudah percaya dengan segala yang disebutkan didalam jurnal tersebut. Harus menjadi wartawan yang “penasaran” akan setiap informasi yang ada. Ketika sudah mulai pada tahap menulis, jangan lupa perhatikan headline penulisan. Buatlah suatu awal yang menarik agar pembaca penasaran akan apa yang ada didalam artikel yang kita tulis. Tulislah secara detil terutama apa yang membuat pembaca kebingungan. Untuk lebih detail berikut merupakan rangkuman bagaimana cara menulis sebuah artikel berita yang berdasarkan jurnal :
a.      Cari makalah yang bagus
Carilah makalah yang menarik bagi banyak orang dan menyenangkan untuk dikerjakan. Sesuatu yang membosankan tentu akan membuat penulis menjadi tidak semangat ketika menulisnya.
b.      Baca
Bacalah dari mulai abstraknya, ketika sudah mulai tertarik bisa membaca lebih detail ke pendahuluan untuk mengetahui konteks yang ada, dan kesimpulan untuk hasil. Jangan lupa untuk mencari aspek penting yang ada di jurnal tersebut, misalnya metode yang digunakan, dsb.
c.       Kepentingan
Periksa konflik yang menarik didalamnya
d.      Dapatkan konteks
Kenali studi-studi sebelumnya untuk melihat konteks yang hendak diteliti dalam jurnal tersebut.
e.      Wawancara penulis
Wawancara dengan penulis tentu akan membuat jurnal menjadi leboh berwarna dan indah. Minta penulis untuk menverifikasi tulisan mereka. Gunakan apa yang mereka ucapkan menjadi kutipan.
f.        Dapatkan pendapat ilmuan lain
g.      Cari apa yang menarik untuk dijadikan “headline”
h.      Ingat anda menulis untuk siapa
Jangan anggap pembaca anda semua tertarik dengan dunia sains yang membosankan. Buat cerita yang menarik secara umum.
i.        Jadilah benar
Sebelum menulis cek segala fakta yang ada dan pastikan segalanya terverifikasi.
j.        Tulislah dengan baik
Umumnya wartawan akan memilih makalah yang sama untuk diliput. Maka, buatlah sesuatu yang unik, menarik, dan menyegarkan.

Dengan petunjuk diatas mungkin menulis sains akan menjadi sedikit lebih mudah, walaupun dalam menulis sains banyak yang harus dipastikan dan gimana caranya membuat segalanya menarik untuk dibaca. Selanjutnya terdapat contoh artikel yang ditulis berdasarkan jurnal. Artikel ini berasal dari theguardian.com. Guardian banyak mengeluarkan artikel sains berdasarkan jurnal yang sudah diteliti. Misalnya saja dari artike yang berjudu “Mirrors have revealed something new about manta rays – and it reflects badly on us” karya Lauren Smith. Artikel ini bercerita tentang ikan dalam kasus ini yaitu Pari Manta yang di uji coba menggunakan MSR atau cermin untuk membuktikan kecerdasannya.
Bagusnya, artikel ini tidak hanya menggunakan satu jurnal untuk mengungkapkan tentang uji coba ini. Artikel ini menggunakan dua jurnal dan beberapa pendapat lain yang menurut saya bagus, karena hal ini dapat memperkecil bias informasi dari hanya satu peneliti. Jurnal yang pertama yaitu “Fish intelligence, sentience and ethics” karya Culum Brown. Lalu jurnal yang kedua yaitu “Contingency checking and self-directed behaviors in giant manta rays: Do elasmobranchs have self-awareness?” karya Csilla Ari dan Dominic P. D’Agostino. Berikut merupakan beberapa kutipan yang diambil dari masing-masing jurnal.

            Bagian yang diambil dari jurnal pertama :
a.      A review published by the journal Animal Cognition in 2014 by Culum Brown, an associate professor at Macquarie University, Sydney, explains that fish are one of the vertebrate taxa most highly utilised by humans.
b.      As Brown highlights in his review, part of the problem is the large gap between people’s perception of fish intelligence and the scientific reality. This is an important issue because public perception guides government policy. The perception of an animal’s intelligence often drives our decision on whether or not to include them in our moral circle. From a welfare perspective, most researchers would suggest that if an animal is sentient, then it can most likely suffer and should therefore be offered some form of formal protection.

Bagian yang diambil dari jurnal kedua :
a.      In 2016 a study was published by Dr Csilla Ari and Dr Dominic D’Agostino on giant manta rays (Manta birostris), which explored the notion of whether these elasmobranchs could be classed as self-aware. Giant mantas have the largest brain of all fish species, as described by Ari in 2011; they often form large feeding aggregations, suggesting complex social interactions and are often referred to as intelligent. They were therefore seen as ideal candidates for investigating self-awareness.
b.      For the study Ari and D’Agostino used the mirror self-recognition test (MSR), a method originally developed by psychologist Gordon Gallup in 1970 as a way to determine whether a non-human animal has the ability to recognise itself. The MSR is considered a reliable behavioural index and has been used to prove self-awareness in the great apes (bonobos, chimpanzees, orangutans and gorillas), bottlenose dolphins, Eurasian magpies and Asian elephants. In order to ascertain whether an animal can pass this test, researchers first expose the animals to a mirror. If they show social responses they likely perceived their mirror image as another individual and did not recognise themselves in the mirror. If they show repetitive and unusual movements they are considered potentially capable of passing the test. In the next phase researchers usually place a mark on the animal’s body (eg paint). They then observe what happens when the marked animal is placed in front of a mirror.
c.       n the Ari and D’Agostino study, due to the difficulties associated with marking a manta ray, observations were made instead in relation to mirror exposure only. Results showed that the Mantas exhibited unusual and highly repetitive movements, exploratory, contingency checking and self-directed behaviour when exposed to the mirror. More specifically they gave selective attention to the mirror by displaying significantly more repetitive movements (very frequent cephalic fin movements) than under control conditions (observations made when no mirror was present) as well as several unusual behaviours, such as exposing and observing their underside in the mirror and bubble blowing, similar to what was observed when bottlenose dolphins were exposed to a mirror.
d.      Mantas are also able to change their colour, rapidly increasing the intensity of their white markings when a new individual approaches (Ari 2014). This was not observed when they were exposed to the mirror, making it reasonable to assume that the animals did not perceive their mirror image as a new individual and that the observed behaviours were not part of normal social interaction.
e.      Dsb

Diambil dari sumber lain :
a.      Whilst no fish species has so far passed this type of test, studies have shown fish respond to their mirror images differently than they do to members of the same species (Desjardins and Fenald 2010 and Balzarini et al 2014).
b.      It is, however, worth mentioning that for some species of fish responses to olfactory cues may be a more appropriate test of self-recognition as opposed to the visually-biased MSR. A study by Thunken et al in 2009 investigated cave cichlids and found they had the ability to recognise their own olfactory cues.


Sumber :
https://www.theguardian.com/science/blog/2018/feb/27/mirrors-have-revealed-something-new-about-manta-rays-and-it-reflects-badly-on-us
https://www.theguardian.com/science/2014/mar/28/news-story-research-paper-wellcome-trust-science-writing-prize
Bab 2 Buku "A Fielnd Guide for Science Writers, Second Edition"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar