Jumat, 16 Maret 2018

Gini nih cara dapet Cerita buat Berita seputar Science


http://edtechreview.in/trends-insights/trends/2829-science-fun

Review – Finding Science Story

                Wartawan sains seperti dibahas pada artikel sebelumnya memiliki banyak sekali sumber yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber berita. Beberapa yang dapat dimanfaatkan yaitu, jurnal ilmiah, seminar, atau dari ilmuan yang kita kenal. Dari beberapa pilihan tersebut wartawan dapat memilih apakah ia ingin berita yang datang kepadanya atau ia bangkit dan mencari berita di luar sana. Wartawan bisa saja hanya diam sampai berita datang dengan mengandalkan press release, tetapi hal ini bisa saja membuat hasil berita serupa juga banyak dari wartawan lain. Jika seorang wartawan mau keluar dan mencari sumber beritanya mungkin berita tersebut berpotensi untuk menjadi viral dan ekslusif untuk anda saja. Berikut merupakan beberapa cara ampuh untuk menjadi cerita tentang sains yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk berita anda nantinya.
1.       Good Source
Carilah sumber yang bagus terkait dengan berita apa ayang akan anda buat. Sumber sendiri dibagi menjadi 2 yaitu, primary source dan secondary source. Sumber utama yaitu ketika orang lain memberi tahu anda secara personal. Misalnya seperti, politikus, tetangga, jurnalis lain, konferensi pers, dsb. Sedangankan sumber kedua merupakan dari sumber dimana semua orang bisa mendapatkan informasi serupa misalnya Internet. Mengingat sumber kedua sangat mungkin terjadi kesalahan, maka cari lah sumber yang sangat terpercaya.
2.       Ideas from Everyday Life
Ide dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dari keluarga atau teman terdekat. Jika seorang jurnalis sains dapat menghubungkan apa yang terjadi sehari-hari dengan sains mungkin itu dapat menjadi tulisan yang menarik bahkan untuk orang-orang yang sama sekali tidak tertarik dengan sains.
3.       Singning up for email alerts
Setiap jurnalis tentu memiliki email baik untuk berkomunikasi atau hal lain. Email sendiri dapat dimanfaatkan sebagai sumber data misalnya email-email penting dari scientist kenalan anda. Maka dari itu perlu mengaktifkan peringatan di email agar segala informasi dapat cepat diketahui.
4.       Meet a Scientist
Sebagai wartawan tentu memiliki beberapa keuntungan yang tidak dimiliki orang lain, misalnya bertemu dengan orang penting. Manfaatkan keuntungan ini untuk bertemu dengan para scientist yang dapat membuka portal informasi anda.
5.       But How Can You Find a Scientist to Interview
Untuk jurnalis yang berada di negara mungkin agak sulit untuk menemukan konferensi-konferesi sains misalnya seperti di Indonesia. Terdpat jalan lain yaitu dengan mendatangi lembaga sains misalnya seperti, universitas, rumah sakit, dsb untuk mendapatkan informasi seputar sains terkini.
6.       Using the Internet to Search for Scientific Information
Seperti yang tadi sudah dibahas, internet dapat menjadi sumber kedua yang cukup memungkinkan untuk mencari sumber berita. Banyak sekali search engine seperti google scholar yang menyediakan ribuan jurnal yang dapat diakses secara gratis.
7.       Covering a Conference
Salah satu sumber yang sangat dapat dipercaya yaitu konferensi. Ketika meliput sebuah konferensi diharapkan wartawan untuk meriset terlebih dahulu apa yang akan dibahas dalam konferensi tersebut.
8.       Ethical Dilemmas
Mungkin sangat menyenangkan jika seorang wartawan di sponsori oleh seseorang atau seseuatu. Pergi gratis ke suatu negara untuk meliput konferensi tentu akan sangat menyenangkan. Tetapi, berita yang dibuat tentu harus netral dan tidak memihak.
9.       Stories from Publication
Jurnal-jurnal baru tentu dipublikasikan setiap hari, atau banyak sekali review mengenai hal-hal terdahulu yang mungkin bisa menjadi cerita yang bagus.
10.   Judging the Quality of Your Source
Mencari mana sumber yang paling relevan dan terbaik. Cerita bisa saja bagus tetapi buat apa jika didapat dari sumber yang tidak dapat dipercaya.


Jumat, 09 Maret 2018

Gampang-Gampang Susah menjadi Wartawan Sains


Summary – How to Write a Science News Story Based on a Research Paper, Bab 2 Reporting Science Journal
Review -Mirrors have revealed something new about manta rays – and it reflects badly on us

          Menjadi wartawan sains mungkin gampang-gampang susah. Reporter lain mungkin memiliki sumber beritanya masing-masing, sedangkan reporter sains memiliki jurnal atau makalah sebagai sumbernya. Setiap harinya ada begitu banyak jurnal yang dipublish, maka dari itu wartawan sains tidak akan pernah kehabisan sumber berita. Dari sekian banyak jurnal yang ada, wartawan harus mampu memilah-milah mana jurnal yang akan digunakan dan mana yang tidak bisa digunakan.
            Ketika ingin memberitakan jurnal sains, seorang wartawan harus membaca jurnal tersebut, paling tidak abstrak yang ada pada jurnal tersebut. Jangan lupa menverifikasi setiap fakta yang ada dalam jurnal kepada pemilik jurnal tersebut lewat wawancara misalnya. Jangan menjadi wartawan yang mudah percaya dengan segala yang disebutkan didalam jurnal tersebut. Harus menjadi wartawan yang “penasaran” akan setiap informasi yang ada. Ketika sudah mulai pada tahap menulis, jangan lupa perhatikan headline penulisan. Buatlah suatu awal yang menarik agar pembaca penasaran akan apa yang ada didalam artikel yang kita tulis. Tulislah secara detil terutama apa yang membuat pembaca kebingungan. Untuk lebih detail berikut merupakan rangkuman bagaimana cara menulis sebuah artikel berita yang berdasarkan jurnal :
a.      Cari makalah yang bagus
Carilah makalah yang menarik bagi banyak orang dan menyenangkan untuk dikerjakan. Sesuatu yang membosankan tentu akan membuat penulis menjadi tidak semangat ketika menulisnya.
b.      Baca
Bacalah dari mulai abstraknya, ketika sudah mulai tertarik bisa membaca lebih detail ke pendahuluan untuk mengetahui konteks yang ada, dan kesimpulan untuk hasil. Jangan lupa untuk mencari aspek penting yang ada di jurnal tersebut, misalnya metode yang digunakan, dsb.
c.       Kepentingan
Periksa konflik yang menarik didalamnya
d.      Dapatkan konteks
Kenali studi-studi sebelumnya untuk melihat konteks yang hendak diteliti dalam jurnal tersebut.
e.      Wawancara penulis
Wawancara dengan penulis tentu akan membuat jurnal menjadi leboh berwarna dan indah. Minta penulis untuk menverifikasi tulisan mereka. Gunakan apa yang mereka ucapkan menjadi kutipan.
f.        Dapatkan pendapat ilmuan lain
g.      Cari apa yang menarik untuk dijadikan “headline”
h.      Ingat anda menulis untuk siapa
Jangan anggap pembaca anda semua tertarik dengan dunia sains yang membosankan. Buat cerita yang menarik secara umum.
i.        Jadilah benar
Sebelum menulis cek segala fakta yang ada dan pastikan segalanya terverifikasi.
j.        Tulislah dengan baik
Umumnya wartawan akan memilih makalah yang sama untuk diliput. Maka, buatlah sesuatu yang unik, menarik, dan menyegarkan.

Dengan petunjuk diatas mungkin menulis sains akan menjadi sedikit lebih mudah, walaupun dalam menulis sains banyak yang harus dipastikan dan gimana caranya membuat segalanya menarik untuk dibaca. Selanjutnya terdapat contoh artikel yang ditulis berdasarkan jurnal. Artikel ini berasal dari theguardian.com. Guardian banyak mengeluarkan artikel sains berdasarkan jurnal yang sudah diteliti. Misalnya saja dari artike yang berjudu “Mirrors have revealed something new about manta rays – and it reflects badly on us” karya Lauren Smith. Artikel ini bercerita tentang ikan dalam kasus ini yaitu Pari Manta yang di uji coba menggunakan MSR atau cermin untuk membuktikan kecerdasannya.
Bagusnya, artikel ini tidak hanya menggunakan satu jurnal untuk mengungkapkan tentang uji coba ini. Artikel ini menggunakan dua jurnal dan beberapa pendapat lain yang menurut saya bagus, karena hal ini dapat memperkecil bias informasi dari hanya satu peneliti. Jurnal yang pertama yaitu “Fish intelligence, sentience and ethics” karya Culum Brown. Lalu jurnal yang kedua yaitu “Contingency checking and self-directed behaviors in giant manta rays: Do elasmobranchs have self-awareness?” karya Csilla Ari dan Dominic P. D’Agostino. Berikut merupakan beberapa kutipan yang diambil dari masing-masing jurnal.

            Bagian yang diambil dari jurnal pertama :
a.      A review published by the journal Animal Cognition in 2014 by Culum Brown, an associate professor at Macquarie University, Sydney, explains that fish are one of the vertebrate taxa most highly utilised by humans.
b.      As Brown highlights in his review, part of the problem is the large gap between people’s perception of fish intelligence and the scientific reality. This is an important issue because public perception guides government policy. The perception of an animal’s intelligence often drives our decision on whether or not to include them in our moral circle. From a welfare perspective, most researchers would suggest that if an animal is sentient, then it can most likely suffer and should therefore be offered some form of formal protection.

Bagian yang diambil dari jurnal kedua :
a.      In 2016 a study was published by Dr Csilla Ari and Dr Dominic D’Agostino on giant manta rays (Manta birostris), which explored the notion of whether these elasmobranchs could be classed as self-aware. Giant mantas have the largest brain of all fish species, as described by Ari in 2011; they often form large feeding aggregations, suggesting complex social interactions and are often referred to as intelligent. They were therefore seen as ideal candidates for investigating self-awareness.
b.      For the study Ari and D’Agostino used the mirror self-recognition test (MSR), a method originally developed by psychologist Gordon Gallup in 1970 as a way to determine whether a non-human animal has the ability to recognise itself. The MSR is considered a reliable behavioural index and has been used to prove self-awareness in the great apes (bonobos, chimpanzees, orangutans and gorillas), bottlenose dolphins, Eurasian magpies and Asian elephants. In order to ascertain whether an animal can pass this test, researchers first expose the animals to a mirror. If they show social responses they likely perceived their mirror image as another individual and did not recognise themselves in the mirror. If they show repetitive and unusual movements they are considered potentially capable of passing the test. In the next phase researchers usually place a mark on the animal’s body (eg paint). They then observe what happens when the marked animal is placed in front of a mirror.
c.       n the Ari and D’Agostino study, due to the difficulties associated with marking a manta ray, observations were made instead in relation to mirror exposure only. Results showed that the Mantas exhibited unusual and highly repetitive movements, exploratory, contingency checking and self-directed behaviour when exposed to the mirror. More specifically they gave selective attention to the mirror by displaying significantly more repetitive movements (very frequent cephalic fin movements) than under control conditions (observations made when no mirror was present) as well as several unusual behaviours, such as exposing and observing their underside in the mirror and bubble blowing, similar to what was observed when bottlenose dolphins were exposed to a mirror.
d.      Mantas are also able to change their colour, rapidly increasing the intensity of their white markings when a new individual approaches (Ari 2014). This was not observed when they were exposed to the mirror, making it reasonable to assume that the animals did not perceive their mirror image as a new individual and that the observed behaviours were not part of normal social interaction.
e.      Dsb

Diambil dari sumber lain :
a.      Whilst no fish species has so far passed this type of test, studies have shown fish respond to their mirror images differently than they do to members of the same species (Desjardins and Fenald 2010 and Balzarini et al 2014).
b.      It is, however, worth mentioning that for some species of fish responses to olfactory cues may be a more appropriate test of self-recognition as opposed to the visually-biased MSR. A study by Thunken et al in 2009 investigated cave cichlids and found they had the ability to recognise their own olfactory cues.


Sumber :
https://www.theguardian.com/science/blog/2018/feb/27/mirrors-have-revealed-something-new-about-manta-rays-and-it-reflects-badly-on-us
https://www.theguardian.com/science/2014/mar/28/news-story-research-paper-wellcome-trust-science-writing-prize
Bab 2 Buku "A Fielnd Guide for Science Writers, Second Edition"


Jumat, 02 Maret 2018

Easy ways to do your own science writing


Summary – A Field Guide from Science Writer (pager 5-10)
Summary - Guardian Article (How to pitch articles to editor, How to report from science conference, How to avoid common mistakes in science writing, how to create a succesfull science blog)


                Sains sejak jaman dahulu kala selalu dipandang sebagai sesuatu yang luar biasa dan memiliki kekuatan yang besar. Bahkan manusia pada jaman dahulu sepat berpikir untuk membatasi sains agar tidak melampaui kekuatan manusia dengan agama. Agama membuat pengetahuan manusia dibatasi sesuai dengan apa yang tertulis di kitab suci. Terlepas dari apa yang terjadi dulu, semakin berkembangnya jaman sains cenderun g tidak lagi dipandang sebagai hal yang demikian. Banyak orang yang menganggap sains sebagai sesuatu yang menarik untuk dibahas.
Seorang penulis karya ilmiah dituntut semakin hari harus semakin canggih, dalam hal ini berarti harus berwawasan luas, dan skeptis.  Sebagai seorang penulis tentu tidak mungkin langsung menjadi seorang profesional. Memulai dari hal kecil terlebih dahulu, mungkin terlihat tidak mudah tetapi ini proses yang sering kali harus dilalui oleh para penulis bahkan yang sudah terkenal sekalipun.
Berikut merupakan beberapa cara yang dapat membantu para blogger pemula untuk memulai menulis karyanya :
1.       MENGETAHUI APA MOTIVASI SEBENARNYA DALAM MENULIS BLOG
2.       MEMILIH PLATFORM APA YANG AKAN DIGUNAKAN
3.       MULAI BERGABUNG DENGAN JARINGAN ATAU KOMUNITAS
4.       MULAI MENULIS
5.       MENGGUNAKAN FASILITAS INTERNET DENGAN BAIK
6.       MENULIS HEADLINE YANG MENARIK
7.       MEMPUBLIKASIKAN HASIL KERJA
8.       COPYRIGHT
9.       MEMILAH SARAN YANG ADA DI KOLOM KOMENTAR
10.   JANGAN CEPAT BOSAN

Dalam menulis sebuah karya ilmiah pasti tidak akan luput dari kesalahan penulisan ataupun kesalahan dalam pemikiran. Kesalah-kesalahan tersebut tentunya dapat diminimalisir agar tidak terulang kembali dan tulan yang dihasilkanpun dapat jauh lebih berkualitas. berikut merupakan cara untuk menghindari kesalahan umun yang sangat sering terjadi ketika mengerjakan tulisan ilmiah :
·         MELEBIH-LEBIHKAN SUATU HAL
Penulis tentu saja ingin karya yang dihasilkannya terlihat bagus dimata banyak orang. Salah satu cara yang sering dilakukan yaitu melebih-lebihkan. Buatlah tulisan yang sebenarnya dan tidak terlalu berandai-andai.
·         MEMERIKSA BERSAMA AHLI
Mengoreksi apa yang ditulis adalah sebuah keharusan. Terkadang penulis perlu mengkonfirmasi langsung apa yang benar. Karena karya ilmiah selalu tidak luput dari kesalahan.
·         MENYUNTING
Menyunting merupakan hal yang sudah pasti akan dilakukan ketika selesai mengerjakan karya ilmiah. Penyuntingan dapat meliputi, kesalahan pengetikan seperti huruf kapital dan kecil, tanda baca, tulisan berbahasa inggris, dsb.
·         MENGGUNAKAN METAFORA
Gunakanlah metafora seperlunya dan pastikan pembaca mengerti.
·         JANGAN BERTINDAK SEPERTI PENGAJAR
Tidak ada salahnya menempatkan pembaca tidak tahu akan apa yang kita bahas, tetapi penulis tetap harus menghargai dengan tidak menempatkannya terlalu rendah.
·         MEMERIKSA FAKTA
Cek kebenaran tentang fakta yang tertulis pada karya ilmiah sampai kepada yang paling benar. Jangan langsung percaya ketika diberika informasi oleh orang lain.
·         BUAT ARTIKEL YANG MENARIK
Buat lah pembaca betah membaca tulisan anda berlama-lama. buat apa yang dibahas menyenangkan untuk dibaca.
·         MENGHARAPKAN FEEDBACK
Jangan selalu puas dengan apa yang dihasilkan, selalu meminta sara dari orang lain.

Setelah mengetahui apa yang menjadi kesalahan umum dan cara mengatasinya, tentu sebagai penulis perlu untuk memperkaya pengetahuannya dengan cara menghadiri seminar-seminar yang berhubungan dengan dunia teknologi.  Berikut ini merupakan poin-poin yang harus diperhatikan ketika meliput suatu konferensi sains dan teknologi :
1.       Riset dan mempelajari apa yang akan dibahas didalam konferensi tersebut. Pastikan apa yang penting ditandai agar pada saat hari penyelengaraan tidak ada yang terlupakan.
2.       Mencari pembicara mana yang berpotensi memberikan materi terbaik untuk dijadikan fokus.
3.       Gunakan kalimat langsung, singkat, dan menghidari klausa yang kompleks.
4.       Selalu menggunakan kata kerja dan meminimalisir penggunaan kata kerja.
5.       Kata pembuka tidak lebih dari 16 kata, kemudian menentukan fokus yang akan dibahas.

Setelah menulis karya yang bagus dan tidak ada kesalahan, yang dilakukan selanjutnya adalah menguangkan apa yang sudah ditulis dengan cara menawarkannya kepada editor sebagai seorang pekerja lepas. Menjadi seorang pekerja lepas memanglah bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Kejadian ditolak mentah-mentah oleh editor pasti sering dialami para pekerja lepas.
Hal yang mungkin dapat dilakukan untuk meminimalisir ditolaknya artikel diantaranya yaitu membaca dahulu apa yang menajdi regulasi media tempat penulis menawarkan karyanya. Kedua buat karya yang stand out agar dapat terlihat oleh editor, karena pada dasarnya editor mendapat kiriminan mungkin ratusan karya per harinya yang membuat pusing. Ketiga yaitu mengirimkan karya terbaik secara utuh agar editor dapat membaca secara langsung apa yang ditulis dan menilai secara utuh.

Senin, 26 Februari 2018

summary - "APA ITU SAINS?"


                  Mengetahui tentu sangat berbeda dengan kepercayaan. Mengetahui sendiri dapat diartikan sebagai memuaskan rasa ingin tahu dengan cara mengobservasi atau mengumpulkan data. Sedangkan, kepercayaan merupakan cara untuk menjelaskan alam semesta dan mengemasnya dnegan kemampuan, kualitas, perasaan, dan emosi. Pengetahuan sehari-hari merupakan pengetahuan umum, masuk akal, primer, atau langsung. Sains termasuk kedalam pengetahuan sistematis yang bertujuan untuk menciptakan, membayangkan, dan menemukan apa yang yang diketahui. Sains juga dibagi menjadi dua yaitu sains keras yang meliputi sains alam dan sains halus yang meliputi sosiologi, psikologi, ilmu politik, sejarah, geografi, teologi, ekonomi, bahkan kedokteran.

              Sains sendiri tidak sepenuhnya sempurna. Karena mendekati kebenaran dan dapat digunakan untuk mengubah realita maka sains memiliki kesulitan melebihi bentuk-bentuk pengetahuan lain. Sains modern bukan lah sesuatu yang mistis atau ajaib yang mungkin dapat menyelesaikan masalah tertentu. sains juga bukanlah sebuah agama dan ilmuan juga bukan seorang pemuka agama.kekurangan lain yang sering terjadi yaitu kesalahan bahkan pemalsuan hasil.

                Dalam metode jurnalistik ketika mengumpulkan informasi dan menyusun berita, seorang wartawan menempatkan kebenaran diatas segalanya. Ini adalah kesamaan lain antara ilmuan dengan wartawan. Wartawan sendiri tidak melaporkan fakta yang tidak terbukti kebenarannya. Seorang pewarta yang baik juga menyediakan konteks dan menjelaskan implikasinya terhadap politik, pendidikan, hukum, keadilan, etika, dan kehidupan masyarakat. wartawan pun memiliki kriteria dan diharuskan memiliki semuanya yaitu, jujur, layak diberitakan, bermakna, dan menarik. Seorang wartawan harus mencangkup aera yang seluas mungkin untuk mendapatkan beritanya dalam konteks yang terluas. Seperti kritikus seni atau sastra, wartawan ilmiah adalah kritikus sains. Seorang kritikus harus senantiasa mengajukan pertanyaan, memeriksa, memilih, mendeskripsikan, menverifikasi, dan menhelaskan fakta ilmiah untuk mencari apa yang hilang dan untuk berkomentar terhadap hal-hal yang ditemukan.

                Para filsuf telah berupaya menggugat sifat sejati sains. Pada akhir abad ke 20, pandangan yang saling bertentangan terhadap sains menghantarkan kita kepada fenomena yang disebut “perang ilmu”. Berikut merupakan beberapa kata pemikiran filsuf kontemporer.
1.       Thomas Kuhn (1922-1996)
Kuhn menyatakan bahwa pencarian obyektif bukanlah tujuan sains yang sebenarnya, namun sains pada dasarnya adalah suatu metode untuk mengatasi masalah yang beroprasi dengan suatu sistem keyakinan kontemporer. Sistem kebanyakan ilmuan seperti Isaac Newston, Albert Einstein, Charles Darwin adalah membentuk ulang alam semesta. Kuhn berargumen bahwa paradigma-paradigma baru mengambil alih bukan karena manfaat ilmiah mereka melainkan karena penentang-penentang mereka mati: relativitas umum paham Einsteinian diterima sebagai suatu deskripsi alam menyusul surutnya wibawa paham Newtonian.

2.       Karl popper (1902-1994)
Menurut Popper, sains adalah sebuah upaya terus menerus dalam pembuktian atau gugatan terhdap kesalahan. Setiao percobaan dan observasi bertujuan untuk membuat kontradiksi terhdap teori yang sudah diterima.

                Konstruktivistis sosiologi meyakini bahwa ilmu adalah sebuat produk asli masyarakat. mereka menyumpulkan bahwa masyarakat menentukan dalam sekala besar keyakinan-keyakinan para ilmuan: seorang ilmuan dapat merujuk publikasi dan hasil kajiannya terdapat suatu teori ilmiah tertentu. validitas atau kesahihan definisi ini terletak pada fakta bahwa publikasi adalah vital bagi setiap ilmuan. Mereka yang telah membuat jurnal ilmiah harus di publikasikan atau lenyap dari peredaran. Semua artikel yang dimuat di jurnal sains yang serius telah di telaah oleh pakar seilmu yang meliputi indeks kutipan dan faktor dampak sebelum dipublikasikan. Tetapi, kebenaran artikel yang telah ditelaah pakar seilmu hanya bersifat sementara. John Rennie, mantan pemimpin redaksi scientific American memiliki empat catatan untuk jurnal-jurnal yang ditelaah pakar seilmu, dengam menyatakan bahwa mereka rawan terhadap:
1.       Peluang untuk suatu kesalahan
2.       Kecurangan
3.       Bias dan ketidak jujuran
4.       Tekanan politis